Skip to main content

Tiga Karakter Santri Darussalam Ciamis

Tiga Karakter Santri Darussalam Ciamis...
Muslim Moderat, Mukmin Demokrat dan Muhsin Diplomat.
Maksud dari konsep-konsep tersebut. Konsep Muslim Moderat adalah sebuah cita-cita untuk mendidik santri menjadi anak bangsa yang yang bisa bergaul dengan luwes, supel, tidak ekstrim, mampu mengatasi berbagai  persoalan berat  dengan kepala dingin dan mampu berperan sebagai bagian dari solusi (part of solution) bukan bagian dari persoalan itu sendiri (part of problems). Santri-santri dididik dan dibina untuk menjadi anak bangsa yang harus menghormati siapapun yang telah berjasa bagi kemajuan umat, bangsa dan negara. Mereka tidak kami  untuk menjadi penghujat dan pencaci maki, apalagi tukang fitnah dan provokator yang mengadu domba antar-masyarakat dan antar-pemimpin. Muslim moderat akan senantiasa memendang “hal-hal lama” yang diyakini masih sangat baik dan bermanfaat bagi kehidupan bangsa dan negara harus tetap dijaga dan dipertahankan eksistensinya. Sedangkan hal-hal baru yang juga dipandang baik dapat diakomodasikan kehadirannya sebagai sebuah sintess dari dinamika kehidupan.
            Konsep mukmin demokrat adalah sebuah cita-cita untuk membekali santri dengan kehidupan yang pluralistik, demokratis, saling mendengar dan saling menghargai berbagai pandangan yang berbeda-beda. Sekalipun pandangan itu perbedaannya sangat tajam, tapi tidak menimbulkan konflik antar pribadi apalagi konflik horisontal antar para pengikut. Mukmin demikrat diidealkan sebagai anak bangsa yang siap dikritik dan dikoreksi manakala melakukan kekeliruan-kekeliruan. Tapi ia juga harus mampu mengkritik balik orang lain dengan pikiran jernih dan hati yang ikhlas.
            Sedangkan muhsin diplomat adalah sebuah upaya pendidikan budi pekerti santri dalam pergaulan sosila sehari-hari yang menekankan pada manajemen hati dan manajemen lidah. Seorang muhsin diplomat harus mengelola hatinya dengan ikhlas, khusyu, tawaddu dan selalu memancarkan Nur Ilahi sehingga dari lubuk hatinya tidak muncul marah dan dendam kesumat. Seorang muhsin diplomat harus mengelola lidahnya untuk membuat orang lain aman, tenang dan tentram, senang dan simpati, bukan mengumbar lidahnya untuk membingungkan dan menyakiti hati orang lain, membuat resah dan cemas orang lain, memancing munculnya kelompok-kelompok reaksioner yang tidak kondusif pada terciptanya rasa aman masyarakat.

Minggu, 25 November 2001
Sumber : Pikiran Rakyat


Three Character Pupils Darussalam Kudat ...
Moderate Muslims , believers and Muhsin Diplomat Democrats .
The purpose of these concepts . Moderate Muslim concept is a goal to educate students to be the nation who can get along with flexible , sociable , not extreme , able to overcome the severe problems with a cool head and be able to act as part of the solution (part of solution) is not part of the problem itself ( part of problems) . Students- students are educated and nurtured to become the nation who must respect everyone who has contributed to the advancement of the people , nation and state . They are not us to be a blasphemer and pencaci maki , especially gossip and provocateurs to pit inter - community and inter - leader . Moderate Muslims will always memendang " old things " are believed to be very kind and helpful to the life of the nation and state must be kept and maintained its existence . While the new things that are also considered to be good can be accommodated as a sintess presence of the dynamics of life .
The concept is a faithful democrat ideals to equip students with the life of a pluralistic , democratic , mutual listening and respect many different views . Even though the view that the difference is very sharp , but not much less personal conflict between horizontal conflict between the followers . Demikrat believer idealized as the nation who prepared criticized and corrected when doing mistakes. But he also must be able to criticize others behind with a clear mind and a willing heart .
While muhsin diplomat is a character education effort of students in socially sosila daily emphasis on careful management and management of the tongue . A diplomat muhsin must manage her with sincerity , humility , and always exudes tawaddu light of God from the heart so it does not appear angry and resentment . A diplomat muhsin must manage his tongue to make other people safe , quiet and peaceful , happy and sympathy , not spit his tongue to confuse and hurt other people , make others uneasy and anxious , fishing emergence of reactionary groups that are not conducive to the creation of a sense of safe communities .

Sunday, November 25, 2001

Sources : People's Mind

Comments

Popular posts from this blog

GENDER DI INDONESIA PERKEMBANGAN DAN SEJARAH PERGERAKAN GENDER DI INDONESIA

GENDER DI INDONESIA PERKEMBANGAN DAN SEJARAH PERGERAKAN GENDER DI INDONESIA MAKALAH Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mandiri Mata Kuliah Gender dan Islam Dosen Pengampu : Dr. Sumadi, M.Ag Disusun Oleh : SAEPUL BAHRI ARIP AHMAD RIFA’I SULUS JUANDRIAN PROGRAM STUDI AHWAL AL-SYAKHSIYAH FAKULTAS SYARI’AH INSTITUT AGAMA ISLAM DARUSSALAM CIAMIS – JAWA BARAT 2014 DAFTAR ISI DAFTAR ISI…………………………………………………………………………………….. BAB I : PENDAHULUAN……………………………………………………………………... 1 A.     Latar Belakang…………………………………………………………………………… 1 B.      Rumusan Masalah…………………………………………………………………………2 C.      Tuuan Pembahasan………………………………………………………………………. 2 BAB II : PEMBAHASAN……………………………………………………………………… 3 A.     Latar Belakang Perkembangan Gender Di Indonesia……………………………………. 3 1.     ...

Perbedaan Khair Dengan Ma'ruf

PERBEDAAN KHAIR dengan MA”RUF             Ada perbedaan antara lafadz al-khair dengan al-ma’ruf, sekalipun dua-duanya sering diartikan kebaikan. Al-Khair adalah kebaikan yang tidak bisa semua orang mengetahuinya bahkan menyetujuinya. Kebaikan ini tertumpu pada penjelasan dalil. Islam adalah al-khair, karena tidak semua manusia setuju dan mengerti tentang kebaikan Islam. Dan Kebaikan Islam perlu penjelasan dan ilmu. Sedang al-Ma’ruf adalah jenis kebaikan yang tanpa dalil-pun orang tahu bahwa itu suatu kebaikan. Bahkan semua orang menyetujuinya. Seperti berbuat baik kepada orang tua, atau memberi makan yang kelaparan. Jangankan umat Islam, luar Islampun sadar bahwa itu kebaikan. Oleh karena itu asal arti al-ma’ruf adalah (sudah) dikenal atau sudah biasa dikenal. Karenanya adat istiadat disebut al-’urf. Walhasil setelah mengenal al-khair maka tinggal memerintah melaksankan, sehingga bisa jadi al-khair menjadi al-ma’ruf disebabkan te...

Zuhud SEbagai akhlak islam dan gerakan sosial

ZUHUD SEBAGAI AKHLAK ISLAM DAN GERAKAN SOSIAL Diajukan untuk Memenuhi Tugas Mandiri Ujian Akhir Semester (UAS) Pada Mata Kuliah Akhlak Tasawuf Dosen Pengampu: Dra. Hj. Eulis Fadilah Jauhar Nafisah., M.Pd.I Disusun Oleh: SAEPUL BAHRI FAKULTAS  SYARI’AH PROGRAM STUDI AHWAL AL-SYAKHSIYAH INSTITUT AGAMA ISLAM DARUSSALAM CIAMIS 2013 KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Illahi Rabbi yang mana telah memberikan rahmat dan karuni-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah berjudul ZUHUD SEBAGAI AKHLAK ISLAM DAN GERAKAN SOSIAL. Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mandiri Ujian Akhir Semester (UAS) pada mata kuliah Akhlak Tasawuf. Penulisan makalah ini dapat selesai pada waktunya berkat bantuan dan dorongan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dalam kesempatan  ini penulis mengucapkan terimakasih yang sedalam-dalamnya kepada semua pihak yang telah memba...