PROBLEMATIKA MASYARAKAT
MODERN
A. Masyarakat Modern
Masyarakat modern
terdiri dari dua kata, yaitu masyarakat dan modern. Masyarakat adalah pergaulan
hidup manusia (himpunan orang yang hidup bersama di suatu tempat dengan ikatan-ikatan
aturan tertentu). Sedangkan modern diartikan yang terbaru, secara baru, mutakhir. Jadi
masyarakat modern berarti suatu himpunan yang hidup bersama di suatu tempat
dengan ikatan-ikatan aturan tertentu yang bersifat mutakhir.
Menurut Deliar
Noer ada 5 ciri-ciri masyarakat modern sebagai berikut :
- Bersifat rasional,
- Berpikir untuk masa depan yang lebih jauh,
- Menghargai waktu,
- Bersikap terbuka, dan
- Berpikir objektf.
Dalam pada itu, Alfin Toffler, sebagai dikemukakan oleh Jalaludin
Rahmat, membagi masyarakat ke dalam tiga bagian. Yaitu masyarakat pertanian
(Agricultural Society), masyarakat industri (Industrial Society), dan
masyarakat infomasi (Informatical Society). Masyarakat pertanian,
ekonominya bertumpu pada tanah / sumber alam. Teknologi yang digunakan adalah
teknologi kecil seperti pompa penyemprot hama ,
racun tikus, dan sebagainya. Informasi yang mereka gunakan adalah media
tradisional, dari mulut ke mulut, bersifat lokal, dan informasi terpusat pada
salah seorang yang dianggap tokoh. Dari segi kejiwaan, mereka banyak menggunakan
kekuatan yang bersifat irrasional, seperti penanganan masalah dengan cara pergi
ke dukun.
Selanjutnya masyarakat industri berbeda dengan masyarakat pertanian.
Modal dasar berupa peralatan produksi dan mesin-mesin produksi. Teknologi yang
digunakan adalah teknologi tinggi. Informasi yang mereka gunakan sudah
menggunakan media cetak atau tulisan yang dapat disimpan oleh siapa saja.
Secara kejiwaan, mereka adalah manusia yang cerdas, berilmu pengetahuan,
menguasai teknologi, dan berpikir untuk hidup secara makmur dalam bidang
materi.
Yang ketiga adalah masyarakat informasi, yang paling menentukan
dalam masyarakat informasi adalah orang-orang yang paling banyak memiliki
informasi. Dari segi teknologi, masarakat informasi menggunakan teknologi
elektronika. Penggunaan teknologi elektronika telah mengubah lingkungan
informasi dari yang bersifat lokal dan nasional kepada lingkungan yang bersifat
internasional, mendunia, dan global. Secara kejiwaan, mereka adalah manusia
yang serba ingin tahu, mampu menjelaskan, dan imajinatif.
B. Problematika Masyarakat Modern.
Kemajuan di bidang teknologi pada zaman modern ini
telah membawa manusia ke dalam dua sisi, yaitu bisa memberi nilai tambah
(positif), tapi pada sisi laian dapat mengurangi (negatif). Efek positifnya
tentu saja akan menigkatkan keragaman budaya melalui penyediaan informasi yang menyeluruh
sehingga memberikan orang kesempatan untuk mengembangkan kecakapan-kecakapan
baru dan meningkatkan produksi. Sedangkan efek
negatifnya kemajuan teknologi akan berbahaya jika berada di tangan orang yang
secara mental dan keyakinan agama belum siap. Mereka dapat menyalahgunakan
teknologi untuk tujuan-tujuan yang destruktif dan mengkhawatirkan. Misalnya penggunaan teknologi kontrasepsi
dapat menyebabkan orang dengan mudah dapat melakukan hubungan seksual tanpa
harus takut hamil atau berdosa. Jaringan-jaringan peredaran obat-obat
terlarang, tukar menukar informasi, penyaluran data-data film yang berbau
pornografi di bidang teknologi komunikasi seperti komputer, faximile,
internete, dan sebagainya akan semakin intensif pelaksanaannya. Hal tersebut
di atas adalah gambaran-gambaran masyarakat modern yang obsesi keduniaannya
tampak lebih dominan ketimbang spritual. Kemajuan teknologi sains dan segala
hal yang bersifat duniawi jarang disertai dengan nilai spiritual.
Menurut Sayyed Hossein Nasr, seorang ilmuwan
kenamaan dari Iran, berpandangan bahwa manusia modern dengan kemajuan teknologi
dan pengetahuaannya telah tercebur ke dalam lembah pemujaan terhadap pemenuhan
materi semata namun tidak mampu menjawab problem kehidupan yang sedang
dihadapinya. Kehidupan yang dilandasi kebaikan tidaklah
bisa hanya bertumpu pada materi melainkan pada dimensi spiritual. Jika hal
tersebut tidak diimbangi akibatnya jiwa pun menjadi kering, dan hampa. Semua
itu adalah pengaruh dari sekularisme barat, yang manusia-manusianya mencoba
hidup dengan alam yang kasat mata.
Menurut Nashr, manusia barat modern memperlakukan alam seperti
pelacur. Mereka menikmati dan mengeksploitasi alam demi kepuasan dirinya tanpa
rasa kewajiban dan tanggung jawab apa pun. Nashr melihat, kondisi manusia
modern sekarang mengabaikan kebutuhannya yang paling mendasar dan bersifat
spiritual, mereka gagal menemukan ketentraman batin, yang berarti tidak ada
keseimbangan dalam diri. Hal ini akan semakin parah apabila tekanannya pada
kebutuhan materi semakin meningkat sehingga keseimbangan semakin rusak. Oleh
karena itu, manusia memerlukan agama untuk mengobati krisis yang dideritanya.
Dari sikap mental yang demikian itu kehadiran iptek telah melahirkan
sejumlah problematika masyarakat modern, sebagai berikut :
- Desintegrasi ilmu pengetahuan
Banyak ilmu yang berjalan sendiri-sendiri tanpa
ada tali pengikat dan penunjuk jalan yang menguasai semuanya, sehingga kian
jauhnya manusia dari pengetahuan akan kesatuan alam.
- Kepribadian yang Terpecah
Karena kehidupan manusia modern dipolakan oleh ilmu pengetahuan yang
coraknya kering nilai-nilai spiritual dan terkotak-kotak, maka manusianya
menjadi pribadi yang terpecah, hilangnya kekayaan rohaniah karena jauhnya dari
ajaran agama.
- Penyalahgunaan Iptek
Berbagai iptek
disalahgunakan dengan segala efek negatifnya sebagaimana disebutkan di atas.
- Pendangkalan Iman
Manusia tidak
tersentuh oleh informasi yang diberikan oleh wahyu, bahkan hal itu menjadi
bahan tertawaan dan dianggap tidak ilmiah dan kampungan.
- Pola Hubungan Materialistik
Pola hubungan satu
dan lainnya ditentukan oleh seberapa jauh antara satu dan lainnya dapat
memberikan keuntungan yang bersifat material.
- Menghalalkan Segala Cara
Karena dangkalnya
iman dan pola hidup materialistik manusia dengan mudah menghalalkan segala cara
dalam mencapai tujuan.
- Stres dan Frustasi
Manusia
mengerahkan seluruh pikiran, tenaga dan kemampuannya untuk terus bekerja tanpa
mengenal batas dan kepuasan. Sehingga apabila ada hal yang tidak bisa
dipecahkan mereka stres dan frustasi.
- Kehilangan Harga Diri dan Masa Depannya
Mereka
menghabiskan masa mudanya dengan memperturutkan hawa nafsu dan menghalalkan
segala cara. Namun ada suatu saat tiba waktunya mereka tua segala tenaga,
fisik, fasilitas dan kemewahan hidup sudah tidak dapat mereka lakukan, mereka
merasa kehilangan harga diri dan masa depannya.
C. Perlunya Pengembangan Akhlak Tasawuf
Akhlak tasawuf
merupakan solusi tepat dalam mengatasi krisis-krisis akibat modernisasi untuk
melepaskan dahaga dan memperoleh kesegaran dalam mencari Tuhan. Intisari ajaran
tasawuf adalah bertujuan memperoleh hubungan langsung dan disadari dengan
Tuhan, sehingga seseorang merasa dengan kesadarannya iu brrada di hadirat-Nya.
Tasawuf perlu dikembangkan dan disosialisasikan kepada masyarakat dengan
beberapa tujuan, antara lain: Pertama, untuk menyelamatkan kemanusiaan dari
kebingungan dan kegelisahan yang mereka rasakan sebagai akibat kurangnya
nilai-nilai spiritual. Kedua, memahami tentang aspek asoteris islam, baik
terhadap masyarakat Muslim maupun non Muslim. Ketiga, menegaskan kembali bahwa
aspek asoteris islam (tasawuf) adalah jantung ajaran islam. Tarikat atau jalan
rohani (path of soul) merupakan dimensi kedalaman dan kerahasiaan dalam islam
sebagaimana syariat bersumber dari Al-Quran dan Al- Sunnah. Betapapun ia tetap
menjadi sumber kehidupan yang paling dalam, yang mengatur seluruh organisme
keagamaan dalam
islam. [6] Ajaran
dalam tasawuf memberikan solusi bagi kita untuk menghadapi krisis-krisis dunia.
Seperti ajaran tawakkal pada Tuhan, menyebabkan manusia memiliki pegangan yang
kokoh, karena ia telah mewakilkan atau menggadaikan dirinya sepenuhnya pada
Tuhan. Selanjutnya sikap frustasi dapat diatasi dengan sikap ridla. Yaitu
selalu pasrah dan menerima terhadap segala keputusan Tuhan. Sikap materialistik
dan hedonistik dapat diatasi dengan menerapkan konsep zuhud. Demikan pula
ajaran uzlah yang terdapat dalam tasawuf. Yaitu mengasingkan diri dari
terperangkap oleh tipu daya keduniaan. Ajaran-ajaran yang ada dalam tasawuf
perlu disuntikkan ke dalam seluruh konsep kehidupan. Ilmu pengetahuan,
teknologi, ekonomi, sosial, politik, kebudayaan dan lain sebagainya perlu
dilandasi ajaran akhlak tasawuf.
[1] W.J.S.
Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1991),
hlm 636.
[2] Deliar Noer,
Pembangunan di Indonesia, (Jakarta: Mutiara, 1987), hlm 24.
[3] Abudin Nata,
Akhlaq Tasawuf, (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 1997), hlm 286.
[4]Agussyafii.blogspot.com/2007/12/problem-dan-solusi-masyarakat-modern.html
[5]Sayyed Hossein
Nashr, Man and Nature…….. 57.
[6]Sayyed Hossein
Nashr, ideals and realities of islam ….. hlm 121
.jpg)
Comments
Post a Comment