Skip to main content

Benarkah Rasulullah Enggan Memmbasmi Nabi Palsu?

Benarkah Rasulullah Enggan Membasmi Nabi Palsu ? 

assalaamu'alaikum wr. wb.



Rasulullah Enggan Memerangi Nabi Palsu?
   
         Dengan penjelasan terdahulu, keyakinan Haekal bahwa Rasulullah Saw tidak mau memerangi nabi palsu, seharusnya sudah bisa ditolak. Bahkan jika kita merujuk kembali pada sumber-sumber primer, pendapat tersebut bertambah jelas kekeliruannya.
Sejarawan Ibn Ishaq menceritakan, pendakwaan Musailamah di Yamamah dan al-Aswad di Yaman terjadi di akhir tahun 10 H (Ibn Katsir, Sirah An-Nabawiyah, Juz 4, hal 98).  Tidak didapati adanya perbedaan diantara ahli sejarah mengenai ini. Adapun kapan tepatnya peristiwa ini terjadi, dapat disimpulkan dari keterangan Ibn Abbas berikut:

       "Rasulullah Saw telah mengirimkan pasukan Usamah bin Zaid menuju Syam dan beliau dalam keadaan sakit sehingga tidak sanggup untuk menyuruh Musailamah dan al-Aswad bertaubat atau mengirimkan pasukan untuk memerangi mereka"

 (Tarikh Al Thabari, Juz 3 Bab Masir Khalid bin Walid)

Di tempat yang sama, keterangan Ibn Abbas ini diperkuat oleh sejarawan muslim paling terkemuka, Ibn Jarir Al Thabari:

 "Sungguh telah dikatakan, bahwa kemunculan Musailamah dan orang-orang yang mengaku nabi lainnya terjadi sepulangnya Rasulullah Saw dari Haji Wada',  saat beliau mengalami sakit keras dimana beliau meninggal dunia"
 Jelaslah, Nabi saw. tidak mungkin memerangi Musailamah maupun al-Aswad dengan pasukan dari Madinah. Pertama, karena pasukan besar telah diberangkatkan menuju Syam yang rencananya akan menyerang daerah kekuasaan Romawi. Kedua, Rasulullah saw. sendiri sudah menderita sakit keras dimana pada sakit inilah akhirnya beliau meninggal dunia. Mungkin ada yang mempertanyakan alasan Rasulullah saw. tidak mengirim sisa pasukan di Madinah. Ini dapat dijelaskan melalui ukuran besarnya pasukan Usamah. Menurut sejarawan al-Waqidi,

 "Tak tersisa satupun dari kaum muhajirin melainkan mereka bergabung dalam pasukan (Usamah) itu. Diantara mereka ada Abu Bakar, Umar dan Abu Ubaidah ibn al-Jarrah".
(Adz-Dzahabi, Tarikh Al Islam, Kitab Sanah Ihdaa Asyr, Bab Khilafah Abi Bakar).
      Selain nama-nama ini, al-Waqidi juga menambah nama-nama lain yaitu: Sa'ad bin Abi Waqqash, Said bin Zaid, Qatadah bin Nu'man dan Salamah bin Aslam (Al Maghazi, Jilid 3 Bab Ghazwatu Usamah). Bergabungnya para tokoh utama sahabat nabi — Abu Bakar, Umar, Abu Ubaidah ibn al-Jarrah, Sa'ad bin Abi Waqqash dan Sa'id bin Zaid — dalam barisan pasukan Usamah bin Zaid menunjukkan begitu pentingnya ekspedisi militer ini hingga kapasitasnya begitu besar dan para shahabat tua-tua yang senior pun harus juga turun tangan. Komposisi pasukan Usamah ini sangatlah wajar mengingat musuh yang mungkin mereka temui adalah tentara Romawi, pasukan tercanggih di dunia yang dulu pernah mereka hadapi dalam perang Mu'tah. 
        Kesalahan Haekal makin diperjelas pula saat merujuk pendapat Ibn Khaldun — tokoh sejarawan muslim, peletak dasar-dasar sosiologi modern, penulis kitab ''Muqaddimah'' yang kelewat kesohor, Abdurrahman bin Muhammad bin Khaldun, wafat tahun 808 H / 1405 M — dalam masterpiece-nya Tarikh Ibn Khaldun, beliau menyebutkan bahwa Rasulullah saw. memerintahkan perang terbuka melawan para nabi palsu:

 "Sepulangnya Nabi Saw dari Haji Wada', beliau kemudian jatuh sakit. Tersebarlah berita  sakit tersebut sehingga muncullah Al Aswad Al Anasi di Yaman, Musailamah di Yamamah dan Thulaihah bin Khuwailid dari Bani Asad; mereka semua mengaku nabi. Rasulullah Saw segera memerintahkan untuk memerangi mereka melalui edaran surat dan utusan-utusan kepada para gubernurnya di daerah-daerah dengan bantuan orang-orang yang masih setia dalam keislamannya. Rasulullah Saw menyuruh mereka semua bersungguh-sungguh dalam jihad memerangi para nabi palsu itu sehingga Al Aswad dapat ditangkap sebelum beliau wafat. Adapun sakit keras yang dialami tidak menyurutkan Rasulullah Saw untuk menyampaikan perintah Allah dalam menjaga agamaNya. Beliau lalu menyerukan orang-orang Islam di penjuru Arab yang dekat dengan wilayah para pendusta itu, menyuruh mereka untuk melakukan jihad (melawan kelompok murtad—pen)".
(Abdurrahman Ibnu Khaldun, Tarikh Ibn Khaldun, Dar Al Kutub Al Ilmiyah: Beirut, Libanon, cet. 1, th. 1992, Jilid 1 hal 474-475).

 Nabi-nabi palsu itu tidak lain adalah para oportunis yang mengira sakitnya Rasulullah saw. adalah kesempatan emas untuk menampilkan diri mereka. Ternyata meski Rasulullah saw. sakit dan pasukan tidak cukup tersedia beliau tidak menyerah dalam menyerukan perang terbuka melawan para nabi palsu. Hal ini jauh berbeda dari kesimpulan Dr. Husein Haekal. Keengganan memerangi nabi palsu, disamping tidak ada asasnya dalam sumber-sumber sejarah, malah sebaliknya bertentangan dengan riwayat-riwayat yang ada

Comments